Sejarah kebijakan luar negri Australia terhadap indonesia

autraslia indonesia                 Hubungan Australia dengan Negara- Negara tetangganya di kawasaan Asia Tenggara dan Pasifik Selatan. Khususnya hubungan Australia dengan Indonesia senantiasa dipengaruhi oleh isyu- isyu persepsi yang tidak sesuai dengan kenyataanyaMenurut Richard H. Chauvel, Australia mempunyai gaya politik yang pragmatis, persaingan tokoh dan partai politik ynag berkonfrontasi dalan partisipasi yang pluralis.

Faktor- faktor yang menentukan kebijaksanaan luar negeri Australia

1. lokasi geografis Australia.
Australia dilingkungi oleh dua Samudera, Samudera India dan Samudera Pasifik. Dipandang dari sudut kepentingannya, Australia menempatkan kedudukan strategis di kawasan Asia Tenggara.Garis pantai Australia dibagian Barat kaut dan utara membentuk garis perbatasan yang paling dekat dengan kepulauan Indonesia. Garis pantainya di bagian Barat yang menganjur ke Samudera India, menempatkan Australia dalam kedudukannya yang mencolok dadlam kaitannya dengan Afrika, adak benua India, dan kawasan Asia Tenggara .

Pantai Timur Australia seluruhnya dikelilingi oleh Samudera Pasifik. Mengaitkan negeri itu dengan Amerika bagian utara dan Amerika bagian Selatan. Australia juga dilihat sebagai sebuah benua pulau yang dikelilingi pada ketiga sisinya oleh dua Samudera. Dengan Irian (New Guinea) dan pulau- pulau yang berdekatan yang membentuk sebuah atap diatas Pantai Utara negeri itu.

Meskipun dapat dipandang sebagai sebuah pagar penangkai bagi Austraslia. Pulau- pulau itu dinilai sebagai garis lemah dalam pertahanan negeri tersebut. Didalam kenyataan, kecemasan Australia ini dibesar- besarkan pula oleh bagian Tenggara Australia yang paling padat penduduknya terletak jauh dari pulau- pulau itu. Sorotan terhadap tiga sisi dengan dua Samudera telah menciptakan konsekuensi- konsekuensi penting terhadap keamanan Australia:

*. Australia yang terletak di ujung jalur perlayaran dunia yang paling penting. Jalur perdagangan yang  melintasi samudera India dan samudera Pasifik. Dan merupakan jalur yang sangat berharga bagi perdagangan luar negerinya.
*. Adanya anggapan bahwa invasi luar bisa dilancarkan dari dua sumber serangan, yakni dari daratan Asia, yaitu kepulauan Indonesia melintasi Samudera India dan invasi dari Samudera Pasifik.

2. Tradisi ke Inggrisan

Australia Merupakan  bekas koloni Inggris dan memiliki  banyak sekali warga keturunan Inggris.  Pemukim- pemukim yang pertama dalah para narapidana dari Inggris. Hal ini merupakan faktor yang paling bertanggung jawab atas Ras inggri merasa  diri lebih tinggi dari sebagian penduduk Australia terhadap bangsa dan ras lain. Sebgai negara persemakmuran inggris . Pemerintah Inggris yang bertanggung jawab terhadap hubungan luar negeri  australia.  Kemudian untuk menganeksasi pulau- pulau tak bertuan di sekiyar Australia.

Kebijaksanaan Luar Negeri Australia sebelum Perang Dunia II

1. Faktor- faktor yang bertanggun  jawab atas pandangan terbatas

                  Lepas dari ketergantungan australia kepada Inggris dibidang keamanan dan penangganan hubungan luar negerinya. Terdapatlah elemen- elemen domestik yang mencegah Australia lebih jauh dalam urusan luar negeri. Kendati pada krisisdi Eropa pada tahun 1930-an yakni dengan bangkitnya Jerman Nazi dan Italia-_dipandang dengan perhatian oleh pemerintah Australia, sebagian besar orang Australia merasa terlalu jauh dari pentas dunia itu.

2. Pandangan Partai Buruh

                  Menurut pandangan ini.  Australia tidak mempunyai kewajiban untuk mengikuti Inggris didalam sebuah perang yang diakibatkan oleh sanksi yang diatas namakan Liga Bangsa-Bangsa.  Sedangkan sanksi itu semata- mata habya mekayani kepebtiungan Inggris.

3. Pandangan Liberal

             Pandangan Liberal dalam masalah luar negeri Australia berlandsaskan wawasan bahwa dalam posisi internasional, Australia haruslah disiapkan berada dinawah Inggris. Alasannya yang pertama adalah berdasarkan kepentingannya. Pemerintah australia wajib menyertahkan kepada pemerintah Inggris keputusan- keputusan yang menyangkut luar negeridemi kerajaan Inggris sendiri—

Kebijaksanaan Luar Negeri Australia setelah Perang Dunia II

Peristiwa- peristiwa yang terjadi pada tahun 1942-1942 menciptakan titik sejarah yang menentukan dalam sejarah kebijaksanaan luar negeri Australia.  Jatuhnya Singapura, Malaysia dan Hindia Balanda (Indonesia) ketangan jepang yang menghadapkan Australia untuk pertama kalinya dalam sejarahnya dengan kemungkinan serangan asing dan mendemonstrasikan ketidak mampuan Inggris untuk menjamin keamanan Australia.Sebagaimana bangsa lain, bangsa Australia tidak bisa lepas dari sejarahnya yang berakar dari kepulauan Britania (Inggris, Skotlandia, Wales dan Irlandia). Warisan Britania ini srkaligusa merupakan kesinambungan dan tolak ukur untuk membedakannya dari warisan Eropa.itu.

Gambaran dan citra sebagai bukan sekedar keturunan Inggris inilah yang menjelang tahun 2000 diharapkan akan dapat secara tuntas melengkapi pemenuhamn jati diri itu dengan resmi dn menamakannya Republik dari nama “Persemakmuran“ (Commonwealth of Australia) yang disandangnya. Bendera Inggris the Union Jack adalah yang ada pada sudut atas bendera Australia merupakan perlambang dari “kesetiaan lama” yang telah menjadi warisa budaya dalam arti yang seluas- luasnya (gaya berpolitik, lembaga- lembaga pemerintah, sistim hokum, kebiasaan- kebiasaan sosial).

Warisan sejarah yang beraneka ragam itu diperkuat lagi oleh factor geopolitik.
Australia adakah negeri suku kulit putih di tengah- tengah masyarakat kulit berwarna coklat, kuning, dan hitamyang mewawrnai Negara- Negara sekitarrnya, mulai dari Indonesia, Malayasia, Brunei Darussalam, Papua Nuigini, Negara pasifik selatan sampai ke lingkar Jepang, Korea, Taiwan, Hongkong dan Republik Rakyat Cina.

Australia yang semula dikenal sebagai negeri jauh dibawah sana sebagai bukti bahwa kekuasaan Australia yang menuju tahun 2001 adalah merupakan masyarakat yang sedang menangani transisi sebagai masyarakat yang harus lebih “Asia”.Kalau pada tahun 1980-an jumlah penduduk Australia adalah 2 % keturunan Asia, maka kelak pada tahun 2030 jumlah orang Asia keturunan Asia akan berkisar 10 %- 15 %. Hal ini adan semakin sadar bahwa jarak geopolitik akan harus ditangani oleh “pertemuan jarak budaya” yang lebih mendalam tentang masyarakat dan budaya Austraslia keturunan Jepang, Hongkong, Singapura dan sebagaiannya.

Dalam kurun waktu sastu setengah generasi akan muncul orang- orang Australia yang sungguh- sungguh baru, yang lewbih terbuka karena desakan dan keharusan daya saing ekonomi Asia timur, tetapi juga yang didalam negeri hadus mengalami proses penyesuaian tentang budaya politik yang untuk sebagian masih mengacu pada Eropa.

Australia kini menyadari bahwa tekanan-tekanan ekonomi yang semakin penting telah memaksanya harus berorientasi pada Jepang dan pengelompokkan perhimpunan perekonomian Asia Pasifik. Masa hubungan erat dan khusus dengan Britania telah telah mulai dipotong sejak tahun 1973, saat Britania diterima di masyarakat Eropa. Masa ketergantungan pada perlindungan politik dan ekonomi Amerika sekitar tahun 1960-1980 an kini beralih ke arah sikap yang lebih mandiri dan lebih bersaing.

Kehidupan politik Australia telah menghasilkan ciri-ciri khusus yang di dasarkan sebagian atas percampuran antara lembaga-lembaga dan tradisi Inggris (dimana pemerintah bertanggung jawab kepada parlemen) dengan struktur federal yang di ilhami oleh Amerika Serikat, dimana Negara-negara bagian tetap memiliki otonomi secara konstitusional dan pada tingkat federal, diwakili oleh sebuah majlis tinggi yang dipilih secara langsung (Senat).

Australia belum dapat sepenuhnya dari citra sebagai “bayang-bayang” Eropa di kawasan Asia Pasifik. Karena itu masa depan Australia akan ditentukan bagaimana ia mengembangkan hubungan dengan negara tetangga-tetangganya di kawasan Asia Pasifik, khususnya dengan negara-negara Asia tetangganya di utara.

Sebagai negara tetangga yang peling dekat, Indonesia berada dalam posisi yang menguntungkan untuk keberhasilan transformasi budaya bangsa Australia. Proses transformasi budaya bangsa Australia bisa membantu bangsa Indonesia untuk memahami teknologi dan peradaban bisnis modern yang selang waktu 10 tahun terakhir telah merombak pola, gaya hidup banyak lapisan masyarakat dan Indonesia sendiri.

Cara Australia menyesuaikan diri dengan poerkembangan-perkembangan pada dasawarsa terakhir abad kedua puluh inilah yang akan ikut menentukan seberapa berhasil transformasi budaya dan jati diri baru Australia. Akan tetapi, proses itu juga dibantu oleh masyarakat Indonesia yang lebih mendalami dan lebih memahami perubahan terhadap masyarakat dan bangsa Australia.

Pesatnya perkembangan pariwisata antar kedua bangsa telah ikut memajukan pengetahuan dan kesadaran betapa pentingnya peranan Australia dalam mempengaruhi tingkat kemajuan ekonomi Indonesia, khususnya di wilayah Indonesia bagian timur. Kalangan pendidik, sastrawan, perfilman dan seniman secara khusus juga telah ikut memajukan program pertukaran pendidikan dan kebudayaan secara menggembirakan.

Akan tetapi Austarlia dimata kebanyakan orang Indonesia selang beberapa tahun belakangan ini lebih banyak dikenal sebagai bangsa dan negara yang keterlibatannya terkait dengan masalah politik luar negeri, khususnya masalah integrasi timor-timur kedalam wilayah Republik Indonesia. Dengan segala untung-ruginya sorotan media masa kedua belah pihak terhadap persoalan ini, terdapat kecendrungan bahwa kedua pihak kehilangan kemampuan untuk melintas masalah-masalah sekarang. Akibatnya terjadilah distorsi yang mengganjal hubungan antar kedua bangsa.

Dengan pemahamn tentang seluk-beluk “Penemuan Australia” lebih dari 200 tahun yang lalu, kita akan lebih memahami pasang naik perkembangan kehidupan masyarakat baru yang mula-mula “ditanami” dari Inggris dan sekarang sudah menjadi suatu bangsa multi budaya yang penuh dengan dinamika, tak terkecuali adalah maslah-masalah akibat peralihan yang sedang dijalankannya sekarang.

Kilas Balik Hubungan Indonesia-Australia

kilas balik hubungan indonesia -australia                 Hubungan Indonesia-Australia dalam kurun waktu 50 tahun (1945-1995) selalu mengalami pasang surut. Namun demikian dalam 7 tahun terakhir pemerintah buruh Australia (1988-1996), khususnya buat perdana mentri Paul John Keating berkuasa dari Desember 1991 sampai dengan 2 Maret 1996, hubungan bilateral Australia-Indonesia mencapai masa yang amat manis, yang tidak pernah di ilhami oleh kedua negara dalam periode-periode sebelumnya. Hhubungan bilateral ini semakin kokoh bukan saja dari segi ekonomi, politik dan sosial budaya, tapi juga dari segi pertahanan dan keamanan. Dipenghujung tahun 1995 itu, kedua negara secara tegar menandfa tangani perjanjian keamanan yang selama 18 bulan sebelumnya amat dirahasiakan baik oleh peredana mentri Keating maupun presiden Soeharto.

Keberhasilan Indonesia- Australia dalam menata sistem keterhubungan bilateral yang begitu luas dan mendalam itu tudak terlepas dari kecanggihan diplomasi perdana mentri Pau Keating dalam membina hubungan pribadi yang begitu dadlam dengan presiden Soeharto yang dipanggilnya “Uncle”(paman).

Kepentingan nasional Australia terdiri atas dua hal pokok yang amat penting, yaitu menjaga keamanan fisik negaranya dan meningkatkan kemakmuran rakyatnya. Kedua kepentingan nasional Austraslia tersebut amat berkaitan erat dengan keamanan dan kemakmuran kawasan Asia dan Pasifik. Kepentingan nasional itu bdi implementasikan kedakam kebijakan- kebijakan politik ekonomi, sosial- budaya dan pertahanan keamanan domestik dan luar negeri.

Pendekatan Australis terhadap negara- negara Asia bukan lagi ditekankan pada masalah- masalah diplomasi politik dan militer semata tetapi pada empat pilar utama, yaitu: Politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan .
Pada masa pemerintahan perdana mentri Bob Hawke masih terdapat pandangan bahwa Indonesia adalah ancaman yang bisa dilakukannya terhadap Australia, saedangkan dimasa perdana mentri Paul Keating terdapat pandangan bahwa stabilitas politik dan pembanguna ekonomi Indonesia selama 25 tahun pertama orde baru telah mengubah pandangan Australia terhadap Indonesia khususnya dan Asia umumnya.

Keating juga menekankan bahwa Indonesia adalah batu ujian pertama dalam hubungan Australia dan Asia. Jika hubungan Indonesia- Australia baik, maka akan memperkuat jaringan- jaringan integrasi Australia kedalam Asia, sebliknya jika buduk maka akan menyulitkan Australia berhubungan dengan negara- negara Asia.
Pertumbuhan ekonimi Indonesia dan australia merupakan kesempatan yang amat penting, bukan saja bagi kedua negara, tetapi juga bagi kekuasaan Asia Pasifik, khususnya asia Tenggara dan Pasifik Selatan.

Sasaran kebijakan Australia terhadap Indonesia 1988- 1996:

Sejak surutnya hubungan kedua negara pada tahun 1986, Australia berupaya untuk meng evaluasi kembali sasaran- sasaran kebijakan luar negeri Australia terhadap Indonesia, tampaknya ada 4 hal:

1. Menciptakan suatu stabilitas dan prediktabilitas dalam hubungan kedua negara.
Ini penting bagi Australiaagar hubungan kedua negara bisa bisa berjalan stabil dan kalauoun terjadi surutnya hubungan, maka bisa normal kembali dalam waktu singkat.
Selain itu Australia juga berkepentingan agar hubungan kedua negara dimasa depan bisa diprediksi perkembangannya.

2. Menciptakan dan mempertahankan saluran- saluran dialog terbuka dan terus terang dengan Indonesia, untuk memperkuat saling percaya dan pengertian antara kedua bangsa yang sangat berbeda sistim politik, hukum, sejarah, bahasa dan budayanya.

               Saluran- saluran pada tingkatan formal antara lain adalah pada tigkat kepala negara atau pemerintahan, tingkat mentri luar negeri, pertemuan dua tahun para mentri ekonomi, teknologi dan industri (menisterial forum), serta forum tingkat pejabat sebior sipil dan militer. Sedangkan pada tingkatan informal melalui Australia- indonesia Business Council (AIBC) di Australia dan di Indonesia Australia Bsiness Council(IABC) di Indonesia.

3. Kerjasama Australia dengan Indonesia di arena politik dan ekonomi, khususnya yang berkaitan dengan isyu- isyu regional Asia Tenggara dan dan Asia Pasifik.

Kedua negara memiliki kepentingan bersama untuk menciptakan suatu Asia tenggara yang stabil dan makmur. Kedua negara bekerja sama secara aktif dalam menyelesaikan masalah Kamboja, aktif si salam ARF, bahu membahu di dalam APEC, PECCCains Groups, dan sebagainya.

4. Australia sebagai “Multi dimentional Approach”atau “Broadenung the Relation Ships”jauh dari penekanan habya kepada masalah politik ke penekanan- penekanan baru pada kerjasama ekonomi sosial budaya dan pertahanan keamanan.

Persepsi Austraia terhadap Indonesia dapat di bagi kedalam empat bagian, yaitu:

1.Persepsi Historis.

Australia yang tumbuh sebagai negara imigran dimulai sejak pemukiman para narapidana pada Januari 1788, Australia yang merasa sebagai bangsa kulit putih yang dilindungi oleh bangsa- bangsa kulit berwarna.Dalam kaitan ini australia takut akan bahaya invasi kultural maupun invasi militer dari utara, khususnya Jepang dan Republik Rakyat Ciina. Kebijakan politik luar negeri Australia terhadap Asia dibawah pengaruh liberal.

Nasional Country pada saat itu (1950- 1972), lebih menonjolkan keikut sertaan Australia didalam aliansi militer barat dibaswah Amerika Serikat, seperti dalam pakta ANZUS (Australia NewZeland and United States) yang dibewntuk pada tahun 1951, dan pakta pertahanan Asia Tenggara (SEATO) yang dibentuk 1954 dan pertahanan lima negara(Five Powers Defence Arrangement FPDA) yang dibentuk pada tahun 1971 antara Inggris, Australia, New Zeland, Malaysia dan Singapura.untuk membantu Singapura dan Malaysia apabila kedua negara tersebut mendapat ancaman dari luar.

Pada tahun 1973 ketika ketika perdana mentri Gough Whitlamdari partai nbiruh berkuasa pendekatan Austrakia terhadap Asia tampak dari dibukanya hubungan diplomatik dengan RRC, peningkatan hubungan perdagangan dengan Jepang dan memahami upaya Indonesia dalam menyelesaikan kermelut politik politik di Timor- Timur.

Sesuai Persepsi sejarah, Indonesia dipandfdang sebagai negara yang bisa menjadi penyangga (buffer- state) dari serangan militer musuh- musuh Australia. Karena itu Australia ingin Indonesia tidak jatuh kertangan suatu pemerintahan nasional yang berideologi komunis atau negara asing yang bernusuhan dengannya.
Dari persepsi sejarah pula sepak terjang Indonesia dalam merebut kembali Irian Bara, konfrontasi dengan Malaysia dan integrasi Timor- Timur dipandang oleh beberapa kalangan di Australia bahwa Indonesi memiliki sifat ekspansionis dan agresif.

1. Persepsi psiko kultural

Indonesia dipandang sebagai suatu bangsa Asia berkulit berwarna yang yang berbeda secara budaya dengan kebanyakan warga negara Australia yang berkulit putih. Bagi Australia Indonesia adalah suatu negara tetengga dekat yang amat berbeda sistim politik dan budayanya. Namun perbedaan itutidaklah lagi menjadi kendala, tetepi bahkan memperkaya sifat hubungan bilateral kedua bangsa dan negara.

2. Persepsi Geografis, Geopolitik, Geostretegis.

Indonesia adalah negara terdekat bersana Papua Niugini.  Yang bisa menjadi penyangga serbuan Jepang ke selatan selama perang pasifik (Perang Dunia II). Bercanpur baurnya ketiga persepsi di atas menyebabkan Australia kadang- kadang mamandang Indonesia sebagai negara musuh. Perkembangan politik serta keamanan regional dan internasional pasca perang dingin menyebabkan Australia ingin membangun “kemitraan strategis”dengan negara Asia umumnya dan khususnya dengan Indonesia 4

3. Persepsi Ekonomi

Indoinesia adalah negara yang cukup penting bagi pembangunan ekonomi Austarlia selain kaya sumber daya alam Indonesia memiliki penduduk yang melimpah sehingga bisa dijadikan pasar bagi barang- barang Australia. Untuk menjadikan Indonesia sebagai pasar, Australia tentunya harus memnbantu pembangunan ekonomi dan sumber daya manusia.ini berartu bantuan luar negeri australia harus dipandang “sebagai memiliki motif etika didalam pelaksanaan politik luar negerinya terhadap Indonesia dan negara- negara berkembang lainya.

Faktor kondusif:Internal dan Eksternal

Terbinanya hubungan baik antara Indonesia dengan Australia disebabkan oleh beberapa faktor:

1. Hubungan pribadi yang akrab antara para pengambil keputusan di kedua negara dan adanya kemauan politik kedua pemerintahan untuk meningkatkan hubungan bilateral Indonesia- Australia. Selain hubungan pada tingkat pejabat, hubungan pada tingkat masyarakat juga di tingkatkan, khususnya melalui lembaga Australia –Indonesia.
2.Perubahan kebijakan Australia terhadap Asia

       Jika dulu Australia mencari keamanan dari Asia,maka sejak tahun 1989 Australia sekaku berusaha untuk mencari keamanan di dalam asia.Cikal bakal kebijakan Australia terhadap Asia muncul sebagai akibat masuknya Inggris menjadi anggota Masyarakat Ekonomi Eropa(MEE) pada 1972yang kini berkembang menjadi Uni Eropa.

3. Faktor perubahan konstelasi politik dan pertahanan Asia pasifik pasca perang dingin.
Berakhirnya perang dingin telah menimbulkan situasi politik dan pertahanan yang masih tidak menentu di kawasan Asia Pasifik khususnya dan internasional umumnya.

               Dalam upaya ini Austrslia selalu mendukung ASEAN dalam upaya menciptakan stabilitas pertahanan regional di kawasan AsiaTenggara (seperti dalam penyelesaian masalah Kamboja dan resolusi penyelesaian konflik di kaut Cina Selatan), dari Pasifik yaitu usaha ASEAN membentuk forum regional ASEAN (ASEAN forum Regional). Ini ditujukan agar Australia bisa bertahan ditengah kekhawatiran berkurangnya kehadirsn Amerika Serikat dikawasan Asia Timur.

Buku putih politik luar negeri Austrlia

Buku putih politik luar negeri Australia merupakan perbaikan terhadap buku utih yang lama yang di luncurkan oleh perdana mentri John Howad pada tahun 1997.
Mentri luar negeri Australia (menlu) Australia Alexander Downer menyebutkan buku putih itu akan sangat brtumpu pasda pada kepentingan Australia (very Australian Foreign Policy).

Downer menegaskan bahwa buku putih itu adalah respons Australia terhadap perubahan politik global khususnya pasca-peristiwa 11 September dan kemudian dicetuskannya agenda perang melawan terorisme. Buku putih itu sekaligus merespon perubahan politik-ekonomi di kawasan Asia Pasifik, krisis ekonomi yang masih melanda sejumlah negara-negara Asia.
Menurut Downer, buku putih politik luar negeri Australia itu secara lebih terperinci ditujukan untuk menjawab sejumlah tantangan baru, yang meliputi:

1. Apa implikasi peristiwa 11 September bagi keamanan internasional, regional, dan khususnya Australia.
2. Bagaimana Australia bertahan dan meraih keuntungan dalam iklim perekonomian yang makin mengglobal saat ini.
3 Bagaimana Australia memaksimalkan keuntungan dari putaran baru negosiasi WTO dan peningkatan kepentingan internasional terhadap kesepakatan perdagangan bebas.
4., Bagaimana menyeimbangkan hubungan luar negeri Australia dengan negara-negara Asia dunia i.
5.Apa tantangan dan peluang Australia di kawasan Asia Pasifik saat ini dan di masa depan
6.Bagaimana Australia menanggapi iklim politik internasional dan kawasan untuk kepentingan ekonomi dan keamanannya.
7. Bagaimana meningkatkan peran Australia dalam lembaga internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa.

           Sejumlah pengamat dan editorial media massa berpengaruh di Australia.  Menyatakan, bahwa penyusunan buku putih itu juga sangat diwarnai keinginan pemerintahan Howard untuk menepis tuduhan bahwa selama ini mereka sebenarnya tidak memiliki cetak biru politik luar negeri (The Courier Mail, 10/5). Buku Putih 1997 oleh banyak pihak dianggap sekadar reaksi taktis pemerintahan Howard untuk membedakan diri dari kebijakan politik luar negeri pemerintahan Paul Keating, terutama dari ”retorika mendekatkan diri dengan Asia” (engagement with Asia).

Untungnya, politik luar negeri Keating itu kemudian memang cenderung kehilangan daya tarik setelah krisis ekonomi politik melanda sejumlah negara Asia sejak pertengahan 1997. Krisis ekonomi-politik itu dengan sendirinya menurunkan posisi dan daya tawar negara-negara Asia-Australia. Sebagaimana biasanya, pihak oposisi Partai Buruh, menanggapi penyusunan buku putih politik luar negeri itu secara bipartisan. Pemimpin opisisi, Simon Crean yang menggantikan Kim Beazley setelah pemilihan federal akhir tahun lalu, menegaskan pihaknya menyetujui sikap Ausralia mendukung AS dalam memerangi terorisme internasional.

Namun ia menandaskan pula bahwa itu tidak berarti Australia harus selalu di bawah bayang-bayang negeri adidaya itu dalam setiap kebijakan politik luar negerinya.
Crean secara sarkastis menyebut kebijakan politik luar negeri pemerintahan Howard sebagai ”wakil polisi yang berlagak angkuh” (boastful swagger of the ‘deputy sheriff’), yang bahkan tidak jarang lebih angkuh dari komandannya.

Sarkasme Crean itu ditujukan pada sikap pemerintah Australia di bawah Howard yang menempatkan diri sebagai ”deputi” AS. Sikap yang sering dipersepsi sebagai sikap angkuh oleh tetangga-tetangganya di Asia, khususnya negara-negara Asia yang mayoritas penduduknya Islam.

Crean juga mengkritik ketidakpekaan pemerintahan Howard terhadap kencenderungan terus menurunnya citra Australia di mata internasional akibat kebijakan kerasnya yang cenderung rasis terhadap para pengungsi dan pencari suaka (asylum seekers) yang umumnya berasal dari Asia.

Seperti biasanya pula, pihak oposisi mempertahankan tradisi pandangan politik luar negerinya untuk tetap mendekatkan diri dengan Asia. ,kedua belah pihak, pemerintah dan pihak oposisi, menyepakati bahwa negara Asia yang harus diberi prioritas utama adalah.Cina.

Crean dan Downer secara eskplisit menyebut strategisnya posisi ekonomi dan politik RRC saat ini, Sehingga peningkatan hubungan Australia-RRC menjadi sangat mendesak. Terlebih setelah RRC masuk WTO.
Crean dalam pidatonya yang bertajuk Australia and Asia, New Directions, New Partnerships memaparkan bahwa kebijakan politik luar negeri Australia seharusnya berpijak pada peningkatan hubungan dan kedekatan dengan Asia, peningkatan hubungan khususnya dengan RRC, dan pembangunan kembali citra Australia sebagai warga internasional yang baik.

Crean menyebut pula hubungan Australia-RRC potensial menjadi model hubungan bilateral. Howard pun tampak bergerak sangat cepat untuk peningkatan hubungan Australia-RRC itu lewat kunjungannya ke bekas negeri Tirai Bambu itu beberapa waktu lalu.
RRC saat ini memang merupakan partner ekonomi terbesar kedua Australia di Asia setelah Jepang. Namun sementara Jepang mengalami kelesuan saat ini, RRC justru terus menanjak.

Hubungan Australia- Indonesia memang juga tetap disebut penting oleh kubu pemerintah oposisi Australia, khususnya kemendesakan membangun hubungan trilateral Australia-Timor Lorosae-Indonesia. Namun kedua kubu menyoroti tingginya tingkat ketidakpastian politik-ekonomi Indonesia saat ini yang mengganggu upaya peningkatan hubungan itu.
Downer menyebut perlunya mendukung transisi demokrasi dan pentingnya membangun kerja sama lebih erat dengan pemimpin-pemimpin Islam moderat / liberal di Indonesia dan juga di negara-negara Asia lainnya. Sementara. Crean menegaskan perlunya peningkatan hubungan personal antara pemimpin-pemimpin Australia dengan koleganya di Indonesia untuk memperbaiki kualitas hubungan kedua Negara.

Perlunya peningkatan bantuan kemanusiaan dan dukungan terhadap transisi demokrasi di Indonesia.Memang cukup jelas terlihat bahwa posisi Indonesia dalam rancangan buku putih kebijakan luar negeri Australia.  Itu sangat ditentukan keberhasilannya melewati transisi domokrasi dan memulihkan kondisi perekonomian dan politiknya.

Sesuatu yang bisa dipahami.  Mengingat betapa sulitnya bagi negara manapun saat ini untuk meningkatkan hubungan dengan Indonesia yang tingkat ketidakpastiannya sangat tinggi. Sejumlah hal bisa kita pelajari dari proses penyusunan buku putih politik luar negeri Australia ini. Antara lain rasionalitas, transparansi dan akuntabilitasnya.

Pemerintah Australia membuka kesempatan luas bagi segenap warganya memberi masukan dan kritik sampai1 Agustus 2002.Rasionalitas, transparansi dan akuntabilitas itu memungkinkan terselenggaranya debat publik debat publik yang berkualitas. Yang tentu akan sangat mempengaruhi dalam pewarnaan hasil akhir buku putih nantinya—

Bagi Australia, Indonesia dipandang sebagai sesama middle power. (kekuatan menengah) di Asia Tenggara yang bias diajak untuk menggalang kekuatan dan bekerja sama dalam menjaga serta mempomoskan stabilutas keamanan dikawasa Asia Tenggara, Sebaliknya bagi Indonesia Australia menjadi mitra alamiah untuk meningkatkan kemampuan pertahanan Australia. Salah satu sebabnya Indonesia berpaling ke Australia adalah adanya kebijakan Amerila Serilat untuk menghentikan penjualan senjata, mengurangi bantuan militer dan mengurangi nantuan siswa militer Indonesia untuk belajar dan berlatih di Amerika Serikat.

Indonesia juga memfutuhkan diversifikasi pasokan peralatan tempurnyaagar tidak tergantung dari pasokan Amerila Serikat, seperti pembelian pesawat HS. Hawke dari Inggris, Karena Inggris adalah induk dari negara persemakmuran dan sekutu Australia di dalam FPDA.
Kedua negara juga alan bekerjasama ubtuk membangun dan mengembangkan industri strategi dimasa yang akan datang yang tampak pada kunjungan Menristek B.J habibie ke Australia khususnya pada tahun 1995. Selain itulatihan- latihan militer bersama pada tingkat khusus angkatan udara yang diberi dandi night komodo dan kokkanur, Angkatan kaut (Ausina Passek dan Ausina patrolek)dan Abgkatan udaa(Rajawali ausindo dan Elang Ausindo)simakin digalakkan sejak awal 1990-an .
Perubahan kebijakan ekonomi dan militer Amerila Serikat di Asia Pasifik. Meskipun Anerika Serikat merupakan sekutu alamiah Australia sejak tahun 1939, namun Australia sudah mengambil ancang- ancang untuk bekerja sama dengan negara- negara Asia.

Masa- masa manis dan menegangkan pada 1995-1996

Hububungan Australia dan Indonesia semakin kokoh dengan dilakukannya kunjunjungan kenegaraan perdana mentri Paul Leating pertama ke Indonesia pada 21-24 April 1992—Sejak saat itu keemp[at sasaran politik luar negeri Australia terhadap Indonesia, mulai diteraplan melalui pendekatan multi dimensional ( politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan)

Atas dasar sasaran tersebut, perluasan dan pendalaman hunungan kedua negara juga dilakukan secara hatu-hati namun dalam tempo yang luar biasa singkatnya Australia sadar bahwa hubungan kedua negara dimasa lalu terganggu adanya perbedaan yang amat mendasar diaantara kedua negara, baik dalam sistem politik, kebudayaan, sejarah dan sebagainya. Pemerintah Australia- Indonesia membentujk institut pada tahub 1989untuk mempererat hubungan kebudayaan kedua negara.. melalui ini Australia berupaya mengubah citranya di masyarakat Indonesia agar tuidak dipandang sebagai tetengga yang sekaku curiga terhadap Indonesia.

Pasang surut hubungan Indonesia – Australia

Alan renouf menulis sebuah buku yang berjudul The Frightened Country ( bangsa yang ketakutan ) bahwa obsesi keamanan bangsa telah menguburkan pelaksanaan suatu kebiljakan politik luar negri yang oriental, dan mengakibatkan hubungan yang kurang mulus dengan negara negara tetangganya dikawasan Asia dan Pasifik.
Mengenai Indonesia Alan Renouf menulis bahwa diluar Amerika Serikat tidak ada negara lain selain Indonesia dimana Australia telah melakukan begitu banyak upaya diplomatik. Tidak ada suatu bangsa suatu negarapun dimana hubungan Australia mengalami begitu banyak perang dan surut seperti dengan Indonesia, tidak ada suatu negara pun kecuali Indonesia dimana Australia harus melakukan berbagai usaha diplomatik dimasa depan. Ujian bagi kebijaksanaan luar negeri Australia adalah Indonesia.

Selanjutnya Alan Renouf menulis juga mengenai ancaman dari Indonesia itu tentu saja tidak seluruhnya benar. Secara realistis Indonesia bukan merupakan ancaman, sebaliknya Indonesia dilihat sebagai tameng bagi pertahanan Australia terhadap kemungkinan serangan dari utara. Persepsi mengenai ancaman ini sengaja diungkapkan kembali disini, seperti yang ditujukan alan Renouf, obsesi yang berlebih lebihan dapat mengganjal hubungan baik yang seharusnya berlangsung antara Indonesia dan Australia.

Kurang mulusnya hubungan Jakarta – Canberra dimasa lalu memang tidak semata mata karna obsesi seperti itu. Ada banyak faktor seperti konflik Indonesi – Belanda mengenai status Irian, konfrontasi dengan Malaysia dan soal Timor Timur, yang ikut mempengaruji hubungan kedua negara dimsa lalu. Sikap media massa yang dinilai Jakarta sebagai “Tidak Bersahabat “ seringkali ikut juga mempengaruhi hubungan tersebut.
Hubungan sejarah Australia – Indonesia

Ditinjau dari hubungan sejarah dapat diketahui bahwa Australia pernah punya peranan yang cukup berarti dalam perjunagan bangsa Indonesia mewujudkan kemerdekaannya pada masa evolusi. Ketika Belanda melakukan aksi militer I yang berhasil menduduki hampir sebagian besar wilayah RI, adalah Australia bersama India yang meminta Interperensi Dewan Keamanan ( DK ) PBB pada bulan Juli 1947. Atas usul Australia, bekas perdana menteri Syahrir diterima peninjau dalam sidang dewan keamanan PBB. Australia menilai alsi militer Belanda di Indonesia sebagai perang antar negara berdaulat. Itu berarti Australia mengakui kedaulatan Indonesia.

Australia juga menjadi salah satu dari tiga negara anggota Komisi Tiga Negara ( KTN ) yang dibentuk dewan keamanan PBB untuk mencari penyelesaian damai Konflik Indonesia – Belanda. Dalam posisi itu Australia dinilai banyak membantu kepentingan Indonesia. Mengenai konflik Indonesia – Belanda, Australia seperti juga Amerika menolak untuk diidentifikasi sebagai negara kolonial yang dapat menempatkan mereka dalam posisi tidak bersahabat dengan negara negara pasifik. Satu dekade kemudian timbul konflik indonesia – Belanda mengenai status Irian,

Huibungan Indonesia – Autralia menjadi keruh karna jakarta menilai Canberra lebih memihak kepada Belanda. Keruhnya hubungan kedua negara ini menjadi semakin meningkat lagi ketika Indonesia pada tahun 1964 meluncurkan konfrontasi terhadap Malaysia, salah satu negara anggota persemakmutan dimnana Australia juga ikut menjadi anggotanya.

Ketika pemerintahan Orde Baru muncum pada tahun 1966, hubungan kedua negara kembali membaik. Sejak saat itu, Australia ikut berperan dalam proses pembangunan di indonesia dengan pemberian bantuan dana dan tekhnik terhadap berbagai proyel pembangunan di Indonesia, hingga kini Indonesia adalah penerima bantuan terbesar dari pemerintah Australia diluar papua newguini.
Diluar bantuan pemerintah, perusahaan peruisahaan swasta. Australia juga bnyak menanamkan mnodalnya di Indonesia. Program bantuan dari pemerintah australia ini tetap berlanjut, sekalipun hubungan Cnberra – Jakarta sempat tegang lagi karna isu Timor Timur yang diluncurkan Australia ataupun pemberitaan beberapa media masss Australia yang dinilai Jakarta sebagai “Negatif”

Timbulnya Generasi Baru

Generasi tua yang masih berperan di Indonesia maupun di Australia mempunyai kenangan yang sama mengenai hubungan baik kedua negara dimasa lalu, khususnya bagi Indonesia yang tidak bisa melupakan jasa Australia dalam masa Revolusi kemerdekaan Indonesia. Tetapi sekarang muncul generasi baru yang tidak lagi begitu menghayati hubungan masa lampau tersebut karne mereka muncul dalam satu kurun waktu dan situasi politk yang berbeda.

Australia jelas tetap penting dan strategi bagi indonesia di masa depan. Demikian juga sebalikya, dari sisi Australia kita menangkap ada aturan yang kuat pada masyarakatnya dan politik luar negrinya yang berpasrtiasan untuk meluaskan kerjasman dengan negara negara di pasifik dan asi tenggara termasuk Indonesia
Arus itu bersumber pada kebutuhan politik realisme yang beberapa faktornya adalah ketergantungan ekspor ekonominya, untuk geopolitik negaranya di kawasan Asia Tenggara, populasi penduduknya yang tak sebanding dengan luas wilayah dan sumber kekayaan alamnya.

Arus itu juga ditopang oleh proses transformasi masyaraktnya yang semakin bersifat multikultural yang berusaha mencari identitas ke-Australiaannya. Pencarian itu tidak bisa lepas dari kenyataan sifat multikultural masyarakatnya maupun lingkungan geografisya dimana mereka berada.

Dan lingkungan itu adalah Asia Pasifik, bukan di Eropa. Dari pihak indonesia, akhir akhir ini masih sering diungkapkan tentang pentingnya orientasi ke pasifik. Dalam melemparkan pandangannya indonesia ke pasifik ( selatan ) itu, indonesia harus melihat pula ke Australia. Negara ini bersama selandia baru merupakan dua negara utama yang pengaruhnya cukup besar dalam konstelasi politik dikawasan itu. Hubungan Indonesia – Autralia, selama ini diibaratkan sebuah jembatan yang retak retak. Hal ini engertian, kecurigaan, dan serentetan stereo tipe yang belang belang oleh hal hal yang negatif 5.

Memang hal hal yang negatif itulah yang perlu dihilangkan dengan kesadaran baru berupa upaya untuk saling belajar, saling memahami dan saling menghormati diantara kedua bangsa.

https://i2.wp.com/www.sejarah-indonesia.com/wp-content/uploads/2017/04/indonesia-dan-australia.jpg?fit=275%2C183https://i2.wp.com/www.sejarah-indonesia.com/wp-content/uploads/2017/04/indonesia-dan-australia.jpg?resize=150%2C150almuksiINDONESIASejarah kebijakan luar negri Australia terhadap indonesia                  Hubungan Australia dengan Negara- Negara tetangganya di kawasaan Asia Tenggara dan Pasifik Selatan. Khususnya hubungan Australia dengan Indonesia senantiasa dipengaruhi oleh isyu- isyu persepsi yang tidak sesuai dengan kenyataanyaMenurut Richard H. Chauvel, Australia mempunyai gaya...situs sejarah terlengkap di indonesia