sejarah perang padri
Gambar: Ilustrasi perang padri

 

sejarah perang padri merupakan sebuah sejarah tentang perjuanganpemurnian ajaran islam dan melawan penjajahan. Pemurnian agama islam adalah salah satu upaya memurnikan ajaran islam dari penyimpangan-penyimpangan yang di lakukan umat islam itu sendiri. Gerakan besarny di di kenal gerakan wahabi (pemurnian ajaran islam). Gerakan ini di lakukan oleh para ulama islam untuk meluruskan pemahaman masarakat yang bertentangan dengan ajaran islam.   Gerakan ini terjadi hampir di seluruh negara islam.

Di indonesia gerakan ini juga berkembang dengan baik. Pembawanya kaum pembaharu dari mereka yang kembali dari tanah suci mekkah.Di Minag kabau gerakan ini sudah mulai masuk pada abad ke 18 M. Gerakan ini di bawa oleh ulama-ulam minang kabau yang kembali berhaji ke tanah mekah di antara tokoh awal gerakan ini yaitu tuanku koto tuo kabupaten agam. Inti dari gerakan ini adlah memurnikan ajaran islam dari kebiasaan umat islam minang kabau dari hal- hal yang di larang oleh alquran dan hadist di antaranya menyabung ayam, pemberian sesajian ke kuburan, cara berpakaian dan banyak yang lainnya.

Karena gerakan ini di rasa merugikan kaum adat yang sudah memegang adat istiadatnya dari lama. Seperti hak waris, sabung ayam dan berjudi. Maka mucullah pertentangan dari kaum adat yang di komandoi oleh para penghulu (tetua adat).Pertentangan ini semakin lama semakin meruncing sehingga terjadi gesekan di masarakat yang mendukung dan menolak gerakan padri tersebut.

Peselisihan ini di manfaatkan oleh belada untuk mengadu domba masarakat minang kabau dengan caramenbantu salah satu pihak dan memanasi keadaan. Belanda berpihak kepada kaum adat. Gerkan padri juga merupakan upaya dari para ulama untuk melawan dominasi belanda di tanah ming kabau.

Melihat realitas kehidupan masarakat yang sudah jauh menyimpang dari nilai dan norma ajaran islam, para ulama padri berupaya mengajak  dan meluruskan masarakat agar hidup sesuai tuntunan alquran dan hadit Pada tahun 1803 kembalilah ulama dari  Mekah, yakni: Haji Miskin, Haji Sumanik dan Haji Piabang. Mereka melanjutkan gerakan pembaruan

atau pemurnian pelaksanaan ajaran Islam seperti yang pernah dilakukan oleh Tuanku Koto Tuo.

Perselisihan antara kaum padri dan kaum  semakin meruncing dengan di adakannya perjanjian persahabatan antara  kaum adat yang di pinpin oleh tuanku suroaso beserta 14 penghulu lainnya dengan residen minang kabau Du Puv tahun 1821. Kaum padri menentang perjanjian tersebut. Belanda mengirimkan pasukan dan menduduki sengkawang tanggal 18 Februari 1821 M.  Kemudian menempatkan 2 meriam  dan seratus orang serdadu belanda. Semenjak saat itu meletuslah perang padri, perang ini di bagi menjadi 2 fase yaitu:

 

  1. Fase pertama (1821-1825)

Pada tahap awal kaum padri mulai menyerang pos-pos belanda dan pencegatan terhadap pasukan belanda misalnya di simawoang, ssulik aia, dan lain –lain. Pada bulan september 1823 M tejadi pertempuan antara pasukan tuangku pasaman dengan pihak belanda yang di bantu oleh kaum adat. Perbandingan pasukan kedua belah pihak yatu:

  • Pasukan tuanku pasaman berjumlah 20.000-25.000 pasukan dengan persenjataan seperti tombak,keris dan parang
  • Pasukan belanda 200 orang serdadu eropa ditambah 10.000 pasukan pribumi dengan senjata senapan,meriam dan senjata tradisional.

Pasukan padri melakukan serangan gerilya, dengan memanfaatkan hutan sebagai tempat perlindungan. Selain pertempuran gerilya juga terjadi perang terbuka. Salam Pertempuran tebuka ini memakan banyak korban. Tuanku Pasaman kehilangan 350 orang prajurit, salah satunya putra beliau. Dengan kekalahan tersebut akhirnya tuanku pasaman dan pasukanya mundur ke daerah lintau. Dengan mudurnya pasukan padri ke lintau maka belanda menguasai lembah tanah datar secara penuh.

 

Setelah berhasil menguasai tanah datar,Belanda mendirikan benteng vandeercapellen. Setelah mudurnya tuanku pasaman kemudian mucul perlawanan terhadap belanda hampir di semua tempat di minang kabau. Salah satunya Tuanku nan renceh memusatkan perlawan di daerah baso yang melawan pasukan belanda di bawah pinpinan  kapten Goffinet 1821-1825 M. Serangan serangan kaum padri di daerah agam dan bukitting semakin meluas. Pada bulan september 1822 M kaum padri berhasil mengusil belanda dari sungai pua, guguak gadang dan  tanjung alam. Setelah kemenangan menyusul berikutnya kemenangan dalam perang kapau di bawah pinpinan P.H Marinus

pada tahun 1823 M Kaum padri di bawah pinpinan Peto syari (yang lebih di kenal dengan nama imam bonjol).  Yang sangat gigih melawan belanda. Karena belanda mengalami kekalahan di banyak tempat di minang kabau di tambah pada saat yang sama belanda juga sedang menghadapi perang dengan diponegoro di jawa , maka belanda mengambil strategi damai . Maka di adakanlah perjanjian damai antara belanda dan padri di alahan panjang pada 26 januari 1824 M yang kemudian di kenal dengan perjanjian masang.

tuanku imam bonjol
Gambar: ilustrasi tuanku imam bonjol

Namu seperti biasa belanda mengunakan kelicikannya dengan menyerang tuanku mensiang yang tidak mau berdamai dengan belanda, Mendenga kabar tersebut akhirnya imam bonjol menbatalkan perjanjian dengan belanda. Tuanku imam bonjol kembali menggerlorakan perlawanan terhadap belanda.

2.Fase kedua (1825-1830)

Setelah bercecamuk lagi perangang antara kaum padi dan belanda.maka  belanda berupaya mencari jalan damai dengan kaum padri karena di sisi lain mereka juga sedang berperang dengan pangeran diponegoro. Belanda meminta bantuan kepada seorang pengusaha (saudagar arab) Untuk mengadakan kontak denga tokoh-Tokoh kaum padri denga harapan kaum padri mau berdamai dengan belanda. Karena kepercayaan para ulama pada saudagar arab tersebut maka di adakanlah perjanjian perdamayan dengan belanda. Namun tidak semua tokoh padri mau berdamai dengan belanda salah satunya tuanku imam bonjol menolak ajakan tersebut. Namun di sisi lain Tuanku nan  renceh mau berdamai dengan belanda Maka di adakanlah perjanjian perdamayan tanggal 15 november 1825 M di pada. Yang di kenal dengan perjajian padang yang isinya yaitu:

Tuanku Imam Bonjol:

  1. Belanda mengakui kekuasaan pemimpin Padri di Batusangkar,Saruaso, Padang Guguk Sigandang, Agam, Bukittinggi dan menjamin pelaksanaan sistem agama di daerahnya.
  2. Kedua belah pihak tidak akan saling menyerang
  3. Kedua pihak akan melindungi para pedagang dan orang-orang yang

sedang melakukan perjalanan

  1. Secara bertahap Belanda akan melarang praktik Sabung

 

 3.Fase ketiga (1830 – 1837/1838)

Pada fase ini di tandai dengan bergabungnya kaum adat dengan kaum padri untuk mengusir penjajah dari ranah minang. Bergabungnya kaum adat ini tentu menambah kekuatan kaum padri. Perang di awali dengan bergeraknya kaum adat dan agama menyerang pos-pos pemeriksaan belanda, Salah satunya perang kamang yang berhasil memutuskan komunikasi antara belanda yang di bukittingi dengan tanjng alam. Kemudian belanda menyerang koto tuo di ampek angkek kemudian berhasil mengalahkan kaum padri di sana. Kemudian mendirikan benteng di ampang gadang sampai ke biaro karena posisi ini di anggap strategis oleh belanda . karena merupakan jalan penghubung dari 50 kota ke bukittinggi.

 

Pada 1831 Gillavary residen belanda untuk minang kabau  digantikan oleh

Jacob Elout. Ia mendapat mandat dari gubenur jendral di batavia untuk  melakukan serangan Besar besaran kepada kaum  padri. Rlout mengerahkan pasukannya untuk menyerang manggung dan naras kemudian batipuh. Kemudian berhasil menguasainya.

Kemudia serangan Belanda ditujukan ke Benteng Marapalam. Benteng ini berhasil di kuasai belanda pada agustus 1831 M.Karena adanya penghianat dari kaum padri yang menunjukkan jalan. Dengan di kuasainya benteng ini menbuat nagari di sekitar benteng iku menyerah.

Setelah di tangkapnya diponegoro di jawa maka lawan terberat belanda hannya tinggal kaum padri waktu itu, maka belanda mengirimkan pasukannya dari jawa untuk melawan kaum padi di minangg kabau. Salah satunya pasukan di bawah pimpinan sentot ali basa dengan 300 pasukan bersenjata lengkap. Dengan kekuatan yang besar belanda mulai menyerang pos-pos pertahanan kaum padri Sepeti di Banuhampu, Kamang, Guguk Sigandang, Tanjung Alam, Sungai Puar, Candung dan beberapa nagari di Agam.  Setelah menguasai pos-pos tersebut belanda bergerak ke kamang. Di kamang belanda mendapat perlawan dahsyat sehingga menbuat 100 pasukan belanda terbunuh termasuk di antaranya perwira. Karena kekalahan tersebut belanda mengirimkan pasukan yang lebih besar sehingga belanda manpu menguasai kamang.

Setelah kekalahan kaum padri di kamang maka pertahan kaum padri berada di bonjol di bawah pimpinan tuanku iman bonjol. Pada tahun 1834 belanda memusatkan kekuatan untuk menyerang bonjol. Tanggal 16 juni 1835 benteng bonjol di hujani dengan meriam oleh belanda.  Akhirnya agustus 1835 benteng di perbukitan  bonjol berhasil di kuasai oleh belanda.

Belanda berusaha mengadakan perjanjian damai dengan tuanku imam bonjol , Imam bonjol mau menerima perjanjian dengan sarat  bonjol di bebaskan dari kerja paksa dan bonjol tidak diduduki oleh belanda. Tapi belanda tidak menberikan jawaban tetapi malah menperkuat kepungan terhadap bonjol. Pada tahun 1836 akhirnya benteng di bonjol jatuh ke tangan belanda.

Dengan di kuasainya benteng di bonjol menbuat pasukan imam bonjol semakin terdesak. Dan melakukan perang gerilya dan berpindah-pindah tempat. Namun Pada tanggal 25 oktober 1837 tuanku imam bonjol berhasil di tangkap dan di buang ke ciajur jawa barat.kemudian pada tanggal 19 januari 1839  di pindahkan ke ambon terhair di pindahkan ke manado sampai akhir hayat beliau 1864 m.

Dengan di tankapnya imam bonjol maka perang padri di angagap berahir. namun perlwanan terhadap penjajah di minang kabau dari kaum padri terus berlanjut namun dalam skala kecil.

                   

Demikian deskripsi singkat saya tentang perang padri semoga bermanfaat>>>

sejarah perang padri

https://i0.wp.com/www.sejarah-indonesia.com/wp-content/uploads/2017/03/ilustrasi-perang-padri.jpg?fit=317%2C159https://i0.wp.com/www.sejarah-indonesia.com/wp-content/uploads/2017/03/ilustrasi-perang-padri.jpg?resize=150%2C150almuksiINDONESIApemurnian islam,sejarah islam,Sejarah perang,sejarah perang padri  sejarah perang padri merupakan sebuah sejarah tentang perjuanganpemurnian ajaran islam dan melawan penjajahan. Pemurnian agama islam adalah salah satu upaya memurnikan ajaran islam dari penyimpangan-penyimpangan yang di lakukan umat islam itu sendiri. Gerakan besarny di di kenal gerakan wahabi (pemurnian ajaran islam). Gerakan ini di lakukan oleh para ulama...situs sejarah terlengkap di indonesia